Holter Monitoring: Alat Pemantau Jantung bagi Penderita Aritmia

Kehidupan seseorang bisa dideteksi lewat detak jantung. Denyutnya dipengaruhi oleh kondisi jantung itu sendiri. Ia bisa menjadi cepat, ketika sedang berolahraga, misalnya. Bisa juga melambat karena sesuatu. Detak atau denyut yang berubah-ubah itu seakan-akan membentuk sebuah irama yang dikenal dengan istilah aritmia. Aritmia sewaktu-waktu dapat menjadi masalah besar bagi kondisi kesehatan seseorang. Untuk mencegahnya, dokter mungkin akan melakukan holter monitoring.

Apa, sih, Aritmia itu?

Aritmia adalah gangguan yang terjadi pada irama jantung. Penderita aritmia bisa merasakan irama jantungnya terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Sebenarnya aritmia normal terjadi pada kondisi jantung yang sehat. Namun, bila terjadi terus menerus atau berulang, aritmia bisa menandakan adanya masalah pada organ jantung.

Umumnya, aritmia terjadi ketika impuls listrik yang berfungsi mengatur detak jantung tidak bekerja dengan baik. Pemicu tidak bekerjanya impuls listrik tersebut secara garis besar terbagi ke dalam dua sebab, yakni sebab medis dan sebab non-medis, khususnya gaya hidup seseorang.

Yang masuk ke dalam pemicu aritmia secara medis antara lain:

  • Konsumsi obat pilek atau obat alergi
  • Sleep apnea
  • Hipertensi
  • Diabetes
  • Gangguan elektrolit, seperti kelebihan atau kekurangan kalium.
  • Gangguan tiroid, misalnya hipertiroidisme
  • Kelainan katup jantung
  • Penyakit jantung bawaan
  • Penyakit jantung koroner
  • Serangan jantung

Adapun gaya hidup yang dapat menyebabkan aritmia adalah:

  • Tidak dapat mengelola stres dengan baik
  • Kurang tidur
  • Merokok
  • Konsumsi minuman beralkohol atau berkafein secara berlebihan
  • Penyalahgunaan NAPZA

Nah, seperti yang telah disebutkan di paragraf pembuka, aritmia adalah kondisi di mana irama jantung tidak sesuai dengan yang seharusnya. Aritmia sendiri ada banyak ragamnya, seperti:

  • Atrial fibrilasi, yaitu kondisi ketika jantung berdetak lebih cepat dan tidak teratur.
  • AV blok, yaitu kondisi ketika jantung berdetak lebih lambat.
  • Supraventrikular takikardi, yaitu kondisi ketika denyut jantung terlalu cepat.
  • Ventrikel ekstra sistol, yaitu kondisi ketika ada denyutan lain di luar denyut normal.
  • Ventrikel fibrilasi, yaitu kondisi ketika jantung hanya bergetar.

Meski pada praktiknya aritmia tidak menampakkan gejala, juga terkadang bukan tanda sebuah masalah tertentu, tetapi ada kondisi khusus di mana aritmia bisa saja membahayakan penderitanya. Jika melakukan pemeriksaan, biasanya tenaga medis akan melakukan beberapa tindakan untuk mengetahui kondisi detak jantung pasien.

Satu prosedur pemeriksaan yang populer dilakukan adalah holter monitoring. Prosedur itu dilakukan dengan sebuah alat yang bisa merekam detang jantung secara terus menerus. Selain dengan holter monitoring, untuk mengatasi aritmia dokter bisa menggunakan teknik pengecekan lain, seperti:

  • Elektrokardiogram (EKG), untuk merekam aktivitas listrik jantung dalam kondisi berbaring.
  • Uji latih jantung, untuk mengukur aktivitas jantung saat pasien melakukan latihan fisik, misalnya mengayuh sepeda statis atau berjalan di atas treadmill.
  • Echo jantung, untuk melihat struktur dan fungsi jantung. Prosedur ini dilakukan dengan bantuan gelombang suara.

Tak Hanya Pasien Aritmia, Holter Monitoring Begitu Multifungsi

Pemeriksaan detak atau irama jantung dengan menggunakan metode holter monitoring juga bisa diberikan bagi mereka yang memiliki masalah jantung lain. Dokter biasa melakukan holter monitoring kepada seseorang yang telah mengonsumsi obat-obatan untuk mengatasi masalah di jantung. Prosedur itu dilakukan untuk memastikan atau memantau efektivitas kerja dari obat-obatan tersebut.

Selain itu, pasien-pasien yang baru saja melakukan bedah jantung biasanya akan dipantau selama beberapa waktu oleh dokter dengan menggunakan holter monitoring. Tujuannya kurang lebih sama, yakni memastikan dan memantau apakah prosedur yang dilakukan sebelumnya sudah memberi hasil signifikan terhadap pasien atau malah sebaliknya.

Cara kerja holter monitoring tak jauh berbeda dengan tes atau uji EKG (elektrokardiogram). Holter monitoring juga mengandalkan bantalan eklektroda yang dipasang di beberapa bagian di dada pasien sebagai alat pendeteksi.

Bedanya, EKG hanya dapat dilakukan di rumah sakit karena menggunakan peralatan yang kompleks dan dilakukan dalam jangka waktu yang singkat (biasanya 1 jam). Sementara holter monitoring menggunakan alat portabel yang memungkinkan pasien dapat melakukan aktivitasnya seperti biasa dan dapat dibawa ke mana-mana. Pasalnya, holter monitoring dilakukan selama 24 sampai 48 jam secara terus menerus.

Sebelum pasien keluar dari rumah sakit, teknisi akan memberikan saran dan petunjuk untuk memastikan monitor bekerja dengan baik. Misalnya, perangkat harus dilepas ketika berenang atau mandi (meskipun disarankan untuk tidak mandi selama masa pengujian). Pasien juga tidak bisa melakukan Uji Sinar-X atau Tes Pencitraan dengan monitor terpasang. Selain itu, monitor tidak dianjurkan untuk ditempatkan dekat dengan logam atau benda bermagnet.

***

Secara umum, penggunaan holter monitoring untuk mengecek kondisi jantung seseorang bersifat aman. Namun, ada sedikit ketidaknyamanan yang mungkin akan pasien rasakan lantaran harus membawa alat itu ke mana pun sepanjang masa pemeriksaan. Meski begitu, alat ini cukup efektif untuk memberikan data yang akurat terkait kondisi aritmia atau jantung pasien secara keseluruhan.

You Might Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *