Isolasi Diri: Langkah Terbaik Batasi Sebaran Virus Corona

isolasi diri virus corona

Dunia tengah dilanda pandemi COVID-19. Penyakit pernapasan yang disebabkan virus corona ini datang dan menyebar dari Wuhan, Tiongkok. Kendati sudah sedemikian “mengerikan”, tetapi Anda tak perlu khawatir berlebihan. Karena dunia belum akan berakhir.

Penyakit COVID-19 yang dibawa oleh virus corona ini menyebar melalui droplet atau kondisi di mana ada perantara bagi si virus pindah ke orang lain. Oleh karenanya, menarik diri dari dunia luar adalah salah satu pilihan terbaik untuk membatasi sebaran pandemi ini.

Terlebih ketika Anda telah menunjukkan gejala serupa flu, seperti termuat dalam dokumen edukasi pemantauan pasien yang dilepas RS Pelni beserta Dinas Kesehatan DKI Jakarta, termasuk lemas, sesak napas, batuk, dan sakit tenggorokan. Atau, bila pernah berkunjung ke negara terjangkit dalam 14 hari terakhir. Mengisolasi diri selama 14 hari tidak hanya dimaksudkan untuk mengurangi risiko tertular COVID-19, tetapi juga sebagai salah satu langkah bijak Anda agar tak turut menyebarkan virus tersebut ke orang lain.

Dokumen serupa dari Public Health Office Inggris menetapkan bahwa semua orang yang menunjukkan gejala serupa flu wajib mengisolir diri selama setidaknya 7 hari. Sementara, semua orang yang pernah “kontak jarak dekat” dengan orang positif COVID-19 diminta mengisolir diri selama setidaknya 14 hari. Bila kamu pernah menghabiskan waktu lebih dari 15 menit dengan jarak lebih dekat dari 2 meter, atau berhadap-hadapan dengan pasien positif COVID-19, kamu wajib isolasi diri.

  • Apa Itu Mengisolasi Diri di Tengah Pandemi Virus Corona?

Isolasi diri berarti sebisa mungkin membatasi kontak dengan dunia luar. Anda wajib untuk tetap tinggal di rumah, sebaiknya di ruangan dengan ventilasi yang baik serta berjarak dengan anggota keluarga lain. Anda tidak diperbolehkan untuk pergi ke tempat-tempat umum seperti kantor, sekolah, tempat hiburan, dan sebagainya. Termasuk juga tidak boleh menggunakan transportasi umum atau taksi.

Akan tetapi, menurut Julii Brainard dan Paul Hunter, pakar ketahanan terhadap penyakit menular di World Health Organization (WHO), kehidupanmu tak harus berhenti seratus persen. Pergerakan dan interaksimu dengan orang lain memang harus dibatasi, tetapi semua itu bisa diatasi apabila Anda mampu bersiasat dan meminta bantuan kepada orang di sekitar Anda.

Semisal Anda tinggal bersama orang lain, amat disarankan untuk memakai masker saat berinteraksi. Kemudian, jika Anda memiliki hewan peliharaan seperti anjing, minta orang lain untuk mengajak anjing tersebut jalan-jalan, lalu wajibkan orang itu mencuci tangan agar tak ada virus corona yang menempel dan siap berpindah ke orang tersebut.

Apabila Anda dapat kiriman makanan dari ojek daring atau belanjaan, minta tukang ojek tersebut taruh makanannya di teras saja. Jangan keluar rumah lalu ambil langsung dari dia. Kalau Anda punya anak, adik, atau keponakan yang harus diantar-jemput ke sekolah, sebisa mungkin minta bantuan orang lain.

Selain itu, hal penting yang tak boleh dilewatkan selama masa isolasi adalah melakukan langkah apa pun yang menurut Anda baik untuk menjaga kesehatan mental. Meditasi, berdoa, sembahyang, tumpuk buku-buku favorit di sebelah kasur, atau apa saja yang dapat tetap menjaga pikiran dan mental Anda dari sesuatu yang bisa melemahkan.

Jangan lupa pula untuk tetap menjaga pola makan yang sehat, olahraga secukupnya, dan tenang. Jangan panik. Panik dan tekanan mental akan membuat Anda stres, dan stres akan membuat imunitas turun.

Setelah melewati masa isolasi jangan lupa untuk kembali mendatangi fasilitas kesehatan atau rumah sakit penangan virus corona untuk memeriksakan kondisi tubuh dan kesehatan Anda. Biasanya dokter akan segera memberikan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan apakah diri Anda masih dibayang-bayangi oleh virus corona atau tidak.

You Might Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *