Perbedaan DBD dan Corona, Penyebab dan Gejala

Saat ini, pandemi corona sedang mewabah di seluruh dunia. Ratusan ribu orang terjangkit penyakit yang belum ada obat dan vaksinnya ini, dan menyebabkan banyak kematian di banyak negara. Coronavirus merupakan sebuah “keluarga virus” yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia. Beberapa jenis dari coronavirus dapat menyebabkan infeksi pernapasan pada manusia. Penyakit coronavirus lain, SARS, yang mana merupakan singkatan dari Severe Acute Respiratory Syndrome, pernah sempat mewabah sebelum akhirnya berkurang dan hilang.

Sayangnya, COVID-19 yang saat ini mengancam kesehatan dunia tampak jauh lebih berbahaya. Penyakit yang berasal dari Cina ini lebih sering menyerang orang dewasa berumur 30 hingga 80 tahun, dengan tingkat kematian yang tinggi pada penderita berusia 80 tahun ke atas. Namun, tidak hanya COVID-19 saja yang harus diwaspadai. Di musim penghujan seperti sekarang ini, Demam Berdarah Dengue juga mengintai kesehatan dan keselamatan keluarga. Namun, apa perbedaan DBD dan Corona? Artikel ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

Gejala yang ditimbulkan oleh DBD dan Corona

Perbedaan DBD dan Corona yang pertama ada pada gejala yang ditimbulkan oleh kedua penyakit ini.  Pada kasus DBD, gejala biasanya akan mulai muncul setelah 4 hingga 7 hari sejak infeksi pertama terjadi. Gejala yang timbul biasanya akan tampak ringan dan sering dianggap sebagai gejala flu biasa atau infeksi lain. Anak-anak atau orang-orang yang belum pernah menderita DBD dapat memiliki gejala yang lebih ringan dibandingkan dengan mereka yang pernah terinfeksi. Gejala ini biasanya akan berlangsung sekitar 10 hari dengan ciri-ciri seperti demam tinggi yang tiba-tiba, sakit kepala parah, kelenjar getah bening yang membengkak, rasa sakit pada persendian dan otot, ruam pada kulit, mual dan muntah, gusi dan hidung berdarah, dan lebam pada kulit.

Sementara itu, COVID-19 atau corona memiliki gejala yang berbeda. Tanda-tanda atau gejala infeksi virus ini akan muncul setelah 2 hingga 14 hari setelah seseorang terpapar virus corona. Infeksi coronavirus ini akan menyerang bagian hidung, sinus, bagian tenggorokan atas, dan paru-paru. Ciri-ciri gejalanya seperti demam, batuk, sesak napas, hidung yang meler, dan tenggorokan sakit. Apabila COVID-19 menyerang bagian bawah saluran pernapasan (batang tenggorok dan paru-paru), kondisi ini dapat menyebabkan pneumonia. Korban utama (yang paling rentan menyebabkan kematian) dari coronavirus adalah orang tua, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, orang-orang yang menderita penyakit jantung, dan mereka yang menderita penyakit diabetes atau komplikasi kesehatan kronis lain.

Penyebab DBD dan Corona

Berbeda gejala, berbeda pula penyebabnya. Perbedaan DBD dan Corona dari segi penyebab bersumber pada jenis pembawa infeksi. Dalam kasus DBD, nyamuk Aedes aegypti membawa virus dengue yang menular ke manusia lewat gigitan nyamuk. Virus dengue DBD memiliki hubungan dengan infeksi virus West Nile dan demam kuning. Area yang memiliki risiko memiliki infeksi DBD adalah Afrika, Amerika Tengah, Meksiko, Pulau Karibia, Pulau Pasifik, Amerika Selatan, Amerika Tenggara, Cina Selatan, Taiwan, dan bagian utara Australia.

Sementara itu, COVID-19 disebabkan oleh salah satu jenis coronavirus yang menyerang saluran pernapasan. Virus ini dipercaya berasal dari kelelawar atau trenggiling yang dikonsumsi oleh manusia. Kasus pertama COVID-19 terjadi di sebuah pasar hewan langka di Wuhan, Cina. Saat ini, penularan COVID-19 melalui droplet batuk atau bersin penderita yang masuk ke dalam tubuh orang lain. Itulah tadi perbedaan DBD dan Corona yang perlu Anda ketahui.

You Might Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *